Manfaat Daun TIn Bagi Kesehatan Tubuh

Kamis, 25 Juli 2019

Manfaat daun tin untuk kesehatan tubuh


Manfaat daun tin untuk kesehatan tubuh
Ada beberapa manfaat daun tin yang baik untuk kesehatan tubuh Anda. Beberapa manfaat daun tin ini bahkan sudah diketahui sejak zaman kuno bahkan pada zaman kenabian. Tidak bisa dipungkiri, jika daun tin sering dijadikan sebagai obat tradisional.
Yuk, simak beberapa manfaat daun tin untuk kesehatan tubuh yang umumnya dikonsumsi dalam bentuk air rebusan atau teh ini!
1. Mengobati batu ginjal
Menurut dr Sidi Aritjahja, seorang dokter dan herbalis di Yogyakarta, daun tin memiliki kandungan saponin dan alkaloid. Kedua kandungan ini bermanfaat sebagai diuretik yang bisa mengatasi sebuah masalah ginjal.
Melalui kandungan saponin dan alkaloid, manfaat daun tin dapat menggerus batu ginjal yang telah mengendap di saluran kemih dan ginjal. Batu ginjal yang telah mengeras ini pun akhirnya bisa terbawa saat buang air kecil.
2. Meningkatkan sistem imun
Seorang dokter di Serang (Banten) yaitu dr Sukarno Hendro juga mengatakan bahwa manfaat daun tin bisa berfungsi sebagai imunomodulator. Hal ini dikarenakan daun tin dapat mengatur sistem kekebalan tubuh.
Hal ini juga diperkuat melalui hasil riset seorang peneliti India bernama Vikas V Patil pada tahun 2010. Ia mengatakan bahwa daun tin bisa merangsang produksi antibodi dan produksi sel limfosit sehingga mampu menghancurkan patogen yang masuk ke dalam tubuh.
Dengan begitu, penggunaan daun tin bisa menangkal berbagai mikroba penyebab penyakit seperti virus, jamur, dan bakteri. Ini juga mengartikan bahwa sistem kekebalan tubuh mengalami peningkatan sehingga tubuh tidak mudah sakit.
3. Meredakan rasa nyeri
Seorang dokter yang juga merupakan herbalis di Yogyakarta yaitu dr Sidi Aritjahja mengatakan bahwa daun tin memiliki kandungan flavonoid yaitu quercetin dan luteolin. Kandungan flavonoid tersebut memiliki sifat antiinflamasi sehingga bisa mengurangi rasa nyeri.
4. Menurunkan gula darah
Manfaat daun tin juga mampu mengobati penyakit diabetes karena bisa menurunkan kadar gula darah. Hal ini didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh C Perez, seorang peneliti di Fakultas Kedokteran Universidad de Extremadura (Spanyol).
Beliau mengatakan bahwa air rebusan daun tin atau teh daun tin mengandung senyawa aktid. Senyawa aktid di dalam air rebusan daun ini memiliki kesamaan seperti hormon insulin. Anda mungkin telah mengetahui bahwa manfaat hormon insulin dapat menurunkan kadar gula darah berlebih.
5. Meningkatkan metabolisme protein dan lemak
Daun tin juga memiliki manfaat untuk meningkatkan metabolisme zat gizi makro yaitu protie dan lemak. Manfaat daun tin yang satu ini dikarenakan daun tin mengandung saponin, alkaloid, dan flavonoid.
Semua kandungan tersebut mendukung perbaikan metabolisme protein dan lemak di dalam tubuh. Hal ini didukung oleh pendapat dr Sidi Aritjahja yang merupakan seorang dokter dan herbalis di Yogyakarta.

6. Sebagai antikanker
Beberapa peneliti dari Iran telah membuktikan bahwa manfaat daun tin yang masih muda bisa bertindak sebagai antikanker. Tidak seperti manfaat daun tin lainnya yang menggunakan air rebusan daun tin, manfaat yang satu ini didapat dengan menggunakan getah yang ada di dalam pucuk daun tin.
Getah yang ada di dalam daun tin bisa menekan pertumbuhan sel kanker. Hal ini dikarenakan getah daun tin mengandung ficin. Ficin adalah enzim cystein proteinase yang bisa memicu apoptosis pada sel kanker sehingga sel-sel kanker akan melakukan penghancuran sendiri.
7. Memperbaiki fungsi hati
Sejak lama, sebuah suku di India telah mengunyah daun tin untuk mengobati hepatitis. Hal ini pun membuat seorang peneliti dari India, yaitu Gond NY, dan Khadabadi SS tertarik untuk membuktikannya secara klinis.
Pada penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti tersebut, mereka memberikan rifampisin dalam dosis tingggi kepada beberapa tikus dengan tujuan agar hatinya menjadi rusak. Setelah hati semua tikus percobaan tersebut rusak, para peneliti memberikan ekstrak daun tin.
Hasilnya, pemberian ekstrak daun tin selama 100 hari kepada semua tikus yang telah rusak hatinya ternyata menunjukkan penurunan terhadap kadar bilirubin, kadar SGPT dan kadar SGOT secara signifikan. Dengan kata lain, manfaat daun tin bisa mengembalikan fungsi hati kembali normal. Ajaib bukan?
Nah, apakah Anda tertarik untuk menggunakan daun tin agar mendapatkan salah satu atau beberapa manfaat yang telah disebutkan di atas? Selamat merasakan manfaatnya!

Sumber:
1.    Redaksi Trubus. 2013. Herbal dari Kitab Suci. Jakarta: Trubus Swadaya.
2.    Desi Sayyidati Rahimah & Enny Pujiastuti. 2016. Prospek bisnis buah tin. Jakarta: Trubus Swadaya.


Rabu, 24 Juli 2019

AMALAN MEMUDAHKAN MENYELESAIKAN KARYA TULIS

AMALAN MEMUDAHKAN MENYELESAIKAN KARYA TULIS

Pengarang kitab al-Burqatul Masyiqah Fi Dzikri Masyukhais Syariah wal haqiqah. Al_Muhaddits as-Sayyid Abil Fakhr Sanaduddin Ali Bin as-Syarif al-Hasaniy hafizhahullah yang juga merupakan guru dari al-Faqir. Beliau menyebutkan di antara amalan para ulama agar diberikan kemudahan menyusun kitab, telah teruji coba dari generasi terdahulu saat mereka membuat muqaddimah (pendahuluan) karya ilmiah, mereka menyematkan ungkapan;

رب أعن ويسر يا كريم

Ya Allah, berikan pertolongan dan mudahkan Wahai yang Maha Dermawan.

Mujarrabat ini sangat cocok diamalkan bagi para pelajar, santri, mahasiswa untuk mendapat kemudahan menulis makalah, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi atau lainnya.

Dikutip ulang dari kitab ittihaful amajid bi nafaisil fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 76.

Pener jemah KH. Rizki Al_batawi

Senin, 22 Juli 2019

Sejarah Berdirinya Banten

Sejarah Berdirinya Banten Lama Sebagai Kesultanan Islam
Banten yang terletak di wilayah paling barat Pulau Jawa merupakan sebuah propinsi yang ada di tatar Pasundan, pernah menjadi bagian dari Propinsi Jawa Barat namun mengalami pemekaran sejak tahun 2000 berdasarkan keputusan UU no. 23 tahun 2000. Pusat pemerintahan Banten berada di kota Serang. Berdasarkan Wikipedia, total luas propinsi Banten sebesar 9.662,92 kilometer persegi dengan jumlah total populasi pada tahun 2017 sebanyak 12.448.160 juta jiwa dengan kepadatan 1.288 jiwa per kilometer persegi. Saat ini di Banten didiami oleh beberapa etnis tertentu, yaitu etnis Banten, Sunda, Jawa, Betawi, Tionghoa, Batak, Minangkabau dan lain – lain.
Terletak di pesisir Selat Sunda dan menjadi pintu gerbang lintas pulau Sumatra dan Jawa karena letaknya yang sangat strategis, wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut yang potensial karena Selat Sunda dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan letaknya secara geografis, maka Banten terutama wilayah Tangerang Raya merupakan wilayah pendukung bagi Propinsi DKI Jakarta. Banten berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Samudera Indonesia di Selatan, Selat Sunda di sebelah Barat dan DKI Jakarta serta Jawa Barat di Timur.

Sejarah Berdirinya Banten



Banten pada masa lalu dikenal dengan nama Bantam, merupakan suatu daerah yang memiliki pelabuhan yang sangat ramai dan kehidupan masyarakat yang terbuka serta makmur. Pada abad ke 5 Banten adalah bagian dari kerajaan Tarumanegara ditandai dengan penemuan prasasti peninggalan kerajaan tersebut pada 1947 berupa Prasasti Cidanghiyang atau juga dikenal dengan Prasasti Lebak, ditemukan di Kampung Lebak di tepi Ci Danghiyang, yang isinya mengagungkan keberanian Raja Purnawarman. Ketika kerajaan Tarumanegara runtuh yang disebabkan oleh serangan kerajaan Sriwijaya, kekuasaan di daerah ini dipegang oleh Kerajaan Sunda. Simak juga sejarah kerajaan Tarumanegarapeninggalan kerajaan islam di Indonesia, dan  sejarah kerajaan Mataram Kuno.
Penduduk Banten menggunakan bahasa daerah Banten, bahasa yang merupakan salah satu dialek bahasa Sunda yang dekat dengan Sunda kuno namun digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar pada tingkatan bahasa Sunda modern. Kata Banten sudah ada jauh sebelum pendirian Kesultanan Banten sebagai bagian dari sejarah berdirinya Banten. Banten digunakan untuk menamai sebuah sungai, yaitu Cibanten yang artinya sungai Banten dan area sekelilingnya. Referensi tertulis mengenai Banten dapat ditemukan dalam naskah Sunda kuno Bujangga Manik, yang menyebutkan nama – nama tempat di Banten dan sekitarnya.
Sungai ini melewati dataran lebih tinggi yang disebut Cibanten Girang atau yang disingkat sebagai Banten Girang saja. Pada tahun 1988 sebuah riset dilakukan di Banten Girang dan menemukaan bahwa pemukiman di tempat ini telah ada sejak abad ke 11 hingga 12 atau sewaktu kerajaan Sunda berkuasa. Diketahui juga bahwa area ini berkembang pesat pada abad ke 16 yaitu ketika Islam pertama kali masuk di wilayah ini. Perluasan wilayah kemudian berkembang ke Serang dan daerah pantai, dimana di daerah pantai ini Sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Banten. Ketahuilah juga silsilah kerajan Kedirisejarah kerajaan Kediri, dan peninggalan kerajaan Kediri.

Kisah Kesultanan Banten
Banten sebagai suatu wilayah telah dikenali sejak awal abad ke 14, sejarah berdirinya Banten sebagai Kesultanan dan salah satu kerajaan di Indonesia berawal dari pelabuhan yang sangat banyak disinggahi oleh kapal – kapal dagang dari berbagai wilayah hingga ke pendaratan orang Eropa yang kemudian menjadi penjajah di Indonesia. Sebuah negara yang disebut Panten sudah dikenal pada tahun 1330 yang dikuasai oleh Majapahit yang kala itu dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Saat itu ada dua kerajaan terbesar di Nusantara yaitu Demak dan Majapahit.
Pada tahun 1524 – 1525 berdatangan para pedagang Islam ke Banten yang menandakan dimulainya sejarah berdirinya Banten dalam aspek penyebaran agama Islam di Banten. Tahun 1524 Sunan Gunung Jati dan pasukan gabungan dari Kesultanan Cirebon dan Demak mendarat di Pelabuhan Banten, dengan fokus untuk merebut Banten Girang. Pada 1527 Maulana Hasanuddin dan ayahnya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati merebut Banten Girang dari Prabu Pucuk Umun yang saat itu memeluk agama Hindu dan mendirikan Kesultanan Banten. Sebelumnya, Sultan Demak mengangkat Maulana Hasanuddin sebagai Bupati Banten.
Sejarah berdirinya Banten  sebagai Kesultanan dimulai pada pengangkatan Sultan Banten pertama yaitu Sultan Hasanuddin kemudian mulai memerintah sejak 1552-1570. Hal ini sekaligus menandakan bahwa Banten telah menjadi kerajaan Islam sejak pengambil alihan kekuasaan oleh Demak melalui Hasanuddin. Kesultanan Banten pada masa Hasanuddin menguasai kedua sisi Selat Sunda. Penerus Maulana Hasanuddin adalah Maulana Yusuf yang memperluas wilayah kekuasaan Banten ke daerah pedalaman. Kesultanan Banten menaklukkan kekuasaan kerajaan Pajajaran pada 1579, merebut ibu kota kerajaan Sunda yaitu Pakuan Pajajaran , merampas Palangka Sriman Sriwacana yaitu tempat duduk penobatan Raja Sunda agar tidak ada lagi raja yang bisa dinobatkan di kerajaan Pajajaran.
Banten mencapai kejayaan puncak pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1683) dengan kepemilikan armada yang mengesankan, bahkan konon mengupah orang Eropa untuk bekerja pada Kesultanan Banten. Untuk mengamankan jalur pelayaran, Banten juga menaklukkan Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat pada 1661. Sayangnya pada 1680 perpecahan muncul di Kesultanan Banten dalam bentuk perselisihan antara Sultan Ageng dan putranya yaitu Sultan Haji, yang dimanfaatkan oleh VOC untuk mendukung Sultan Haji sehingga terjadi perang saudara. Perang ini menyebabkan Sultan Ageng terdesak dan mundur ke selatan pedalaman Sunda bersama dua putranya yang lain, namun beliau tertangkap pada 14 Maret 1683 dan diasingkan serta ditahan di Batavia. Kedua putranya yang lain yaitu Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf ditangkap oleh VOC pada 1683 dan 1684.
Akhir Dari Kesultanan Banten
Sultan Haji harus membayar bantuan dari VOC dengan menyerahkan wilayah Lampung pada 12 Maret 1682, yang tertera dalam surat dari Sultan Haji kepada Mayor Isaac de Saint Martin, seorang admiral kapal VOC yang sedang bersandar di pelabuhan Banten. Perjanjian dengan VOC pada 22 Agustus 1682 memperkuat hak monopoli VOC akan perdagangan lada di Lampung. Tidak hanya itu, berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, kerugian VOC akibat perang harus diganti oleh Sultan Haji.
VOC semakin merajalela dalam sejarah berdirinya Banten. Sepeninggal Sultan Haji pada 1867, pengaruh VOC di Kesultanan Banten semakin besar dengan diangkatnya dua orang Sultan lagi melalui persetujuan VOC. Perang saudara yang dilakukan oleh Sultan Haji menimbulkan dampak besar bagi Banten sebagai Kesultanan, ditambah dengan campur tangan VOC dalam semua urusan yang menyangkut Banten. Kondisi tersebut memancing adanya perlawanan dari rakyat, yang justru memaksa Sultan Banten untuk kembali meminta bantuan dari VOC.
Kejatuhan Kesultanan Banten dalam sejarah berdirinya terjadi ketika pada tahun 1808 Daendels dalam proyek Jalan Raya Pos memerintahkan Banten agar menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan Ujung Kulon dan memindahkan ibu kota Kesultanan ke Anyer. Namun Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin menolak, menyebabkan ia ditangkap dan dibuang ke Batavia bersama seluruh keluarganya. Daendels kemudian mengumumkan pada 22 November 1808 bahwa Kesultanan Banten telah dihapuskan dan wilayahnya digabungkan ke dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Senin, 15 Juli 2019

Sejarah Golongan Asy'Ariyah

Sejarah Timbulnya Asy-'Ariyah

     Sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sesat tadi maka pada akhir abad ke III Hijriyah timbullah golongan yang bernama Kaum Ahlu Sunnah Waljama'ah, yang di ke palai oleh dua orang "Ulama besar dalam ushuluddin Yaitu Syekh Abu Hasan 'Ali al Asy'ari dan Syekh Abu Mansur al-Maturidi. Perkataan Ahlu sunnah wal jamaah  kadang-kadang di pendekkan menyebutnya dengan ahli sunnah saja, atau Sunny saja atau kadang-kadang juga di sebut juga Asy'ari atau Asy'irah, di kaitkan kepada guru besarnya yang pertama abu hasan 'Ali al Asy'ari.

   Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan 'Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Ismail bin Abdillah, bin Musa al'Asy'ari. Abi Musa ini seorang sahabat nabi yang terkenal dalam sejarah Islam, Abu Hasan lahir di iraq tahun 260 H. Ya'ni 55 tahun sesudah meninggalnya Imam syafi'I Rda dan meninggal di Basrah juga pada tahun 324 H, dalam usia 64 tahun.Beliau pada mulanya murid dari bapak tirinya seorang ulama besar kaum mu'tazilah, syekh Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai meninggal tahun 303 H, tetapi beliau taubat dan keluar dari golongan mu'tazilah itu.

  Pada masa itu abad ke III H, banyak sekali ulama-ulama mu'tazilah mengajar di Basrah, Kuffah dan baghdad. Ada 3 orang khalifah Abasiyah yaitu Ma'num bin Harun ar-Rasyit, Al-Mu'tasim, dan Alwasiq adalah khalifah-khalifah yang menganut faham mu'tazilah atau sekurangnya penyokong-penyokong yang utama dari golongan Mu'tazilah.

  Dalam sejarah dinyatakan pada jaman itu terjadilah apa yang dinamakan "fitnah al-qur'an makhluk" yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sefaham dengan faham mu'tazilah.

  Pada masa  Abu Hasan al-Asy'ari muda remaja ulama-ulama mu'tazilah sangat banyak di Basrah, kuffah dan bagdad. Masa itu masa gemilang-gemilang bagi mereka, karena fahamnay di sokong oleh perintahan. Imam Abu Hasan termasuk salah seorangpemuda yang belajar kepada seorang syeh dari mu'tazilah  yaitu muhammad bin abdul wahab al jabai, ini bukan muhammad bin abduh wahab pembangun mazhab wahabi di nejdi.

  Imam Abu hasan as'ari malihat, bahwa pada kaum mu'tazilah banyak terdapat kesalah besar, banyak bertentangan dengan I'tiqat dan kepercayaan nabi muhammad Saw dan sahabat-sahabat beliau dan banyak yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadist.

  Maka dengan itu bellau keluar dari mu'tazilah dan taubat kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahannya yang lalu, bukan saja begitu, tetapi beliau tampil kemuka digaris depan untuk melawan dan mengalahkan kaum mu'tazilah yang salah itu. Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di Mesjid Basrah yang sangat besar itu dan mengucapkan pidato yang berapi-api dengan suara lantang yang didengar oleh banyak kaum muslimin yang berkumpul di situ. Dan diantar pidato beliau : Siapa yang sudah mengetahui saya, baiklah, tetapi bagi yang belum mengetahui maka saya ini adalah Abu Hasan 'Ali al-As'ari anak dari Ismail bin Abi Basyar.

  Dulu  saya berpendapat bahwa Qur'an itu makhluk, bahwa Tuhan Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akirat, dan bahwasanya manusia menjadikan (mencipktakan) perbuatanya, serupa dengan kaum mu'tazilah. Nah, sekarang saya nyatakan terus terang bahwa saya telah taubat dari faham mu'tazilah dan saya sekarang terlempar I'tiqad mu'tazilah itu seperti saya melemparkan baju saya ini (ketika itu di bukannya bajunya dan dilemparkan) dan saya setiap saat siap untuk menolak faham mu'tazilah yang salah dan sesat itu.

  Dari mulai tanggal itu imam Abu hasan Ali Asy-ariyah berjuang melawan kaum mu'tazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum mu'tazilah di mana-mana, merumuskan dan menuliskan dalam kitab-kitabnya I'tiqad-I'tiqat kaum ahlu sunnah waljamaah sehingga nama beliau masyhur sebagai seorang ulama tauhid yang dapat menundukkan dan dapat menhanjurkan faham mu'tazilah yang salah itu.

  Beliau mengumpulkan sebaik-baiknya dari qur'an dan hadist faham-faham atau I'tiqat Nabi Muhammad Saw dan sahabat nabi, diperinci dengan sebaik-baiknya. Beliau mengarang buku-buku Ushuluddin banyak sekali, berkata Imam Zabidi, pengarang kitab ittihaf sadtil muttaqin syarah Ihya Ulumuddin Imam Asy-ari mengarang kitab-kitab sekitar 200 kitab, diantara kitab-kitab beliau adalah:

1.   Ibanah fi Ushuluddiniyanah, 3 jilid

2.   maqalaatul Islamiyin

3.   Almujaz, 3 jilid

  Keistimewaan Imam Abu Hasan dalam menegakkan fahamnya ialah dengan mengutamakan dalil-dalil dari qur'an dan hadist dan juga dengan pertimbangan aqal dan pikiran, tidak seperti kaum mu'tazilah yang mendasarkan pikirannya kepada akal dan falsafah yang berasal dari Yunani dalam membicarakan Usluddin dan tidak pula seperti kaum Mujasimah (kaum yang menyerupakan Tuhan dan mahkluk) yang memegang arti lahir dari qur'an dan hadist, sehingga sampai menyatakan Tuhan bertangan, Tuhan bermuka, Tuhan duduk di atas arsy, dan lain-lain sebagainya.

  Alhamdulillah, Imam Abu Hasan al Asy'ari dapat menegakkan faham yang kemudian dinamai "faham Ahlusunnah wal jama'ah", yaitu faham sebagai mana di yakini dan dii'tiqatkan oleh nabi besar Muahammmad Saw dan para sahabat-sahabat beliau. Suatu hal lagi yang baik juga diketahui bahwa pada umumnya dunia islam menganggap dalam furu' syaria't (fiqih) yang benar dalah fatwanya Imam hanafi, Maliki, dan Hambali, dalam Ushuluddin, yang benar dan yang sesuai dengan qur'an dan hadist, adalah fatwa kaum Ahli Sunnah Wal jama'ah

  Jikalau kita lihat dan berkeliling dunia, dari Barat ke Timur atau daru Utara ke Selatan dan bertanya tentang mazhab dalam furu' syari'at dan dalam I'tiqat di suatu daerah islam, maka kita akan mendapatkan mazhab tersebut di negara seperti:

1.    Di Maroko Mazhab maliki/ Ahli sunnah wal jama'ah.

2.    Di Aljazair mazhab hanafi / Ahli sunnah wal jama'h.

3.    Di Tunisia Mazhab Hanafi / Ahlu sunnah wal Jama'ah.

4.    Di Mesir Mazhab hanafi dan Syafi'I / Ahlu sunnah wal jama'ah.

5.    Di Indonesia Mazhab Syafi'I / Ahlu sunnah wal jama'ah.

6.    Dan lain-lain.

  Nampaklah bahwa sebagian besar ummat Islam di atas dunia pada zaman sekarang adalah penganut dan pendukung faham Ahlu sunnah wal jama'ah.

B. Dokrin-Dokrin Teologi Al-Asy'ari.

  Formulasi pemikiran Al-Asy'ari, secara esensial, menampilkan sebuah upaya sistesis antara formulasi ortodoks ekstrim di satu sisi dan Mu'tazilah di sisi lain. Dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki semangat ortodoks. Aktualitas formulasinya jelas menampakkan sifat yang reaksionis terhadap mu'tazilah, sebuah reaksi yang tidak dapat dihindari corak pemikiran sistensis ini, menurut Watt, barangkali di pengaruhi oleh teologi kullabiah (teologo sunny yang di peloporo ibn kullab).

Pemikiran-pemikiran Al-Asy'ari yang terpenting adalah berikut ini :

1.    Tuhan dan Sifatnya.

  Perbedaan pendapat di kalangan mutakallimin mengenai sifat-sifat Allah atak dapat dihindarkan walaupun mereka setuju bahwa mengesakan Allah adalah wajib. Al-Asy'ari di hadapkan dua pandangan ekstrim. Di satu pihak ia berhadapan dengan kelompok mujasimah dan kelompok musyabbihah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain esensinya. Adapun tangan , kaki, telinga Allah atau Arsy atau kursi tidak boleh diartikan secara arfiah, melainkan secara simbolis (berbeda dengan kelompok sifatiah). Selanjutnya, Al-as'ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat di bandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip. Sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi-sejauh dengan menyangkut realitasnya (hagigah) tidak terpisah dari esensinya. Dengan demikian, tidak berbeda dengan-Nya.

2.    Pelaku Dosa Besar

  Terhadap dosa besar, agaknya Al-Asy'ari, sebagai wakil ahl As-Sunnah, tidak mengafirkan orang-orang sujud ke Baitullah (ahl Al-Qiblah) walaupun malakukan dosa besar, seperti bercina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi jika dosa besarnya di lakukannya dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak menyakini keharamannya, ia dipandang telah kafir.

  Adapun balasan di akhirat kelak pelaku dosa besar apabila ia meninggalkan dan tidak dapat bertaubat, maka menurut Al-asy'ari, hal itu bergantung pada kebijakan tuhan yang maha berkehendak Mutlak. Tuhan dapat saja mengampuni dosanya atau pelaku dosa itu mendapat syafaat nabi Saw, sehingga terlepas dari siksaan neraka sesuai dengan ukuran dosa yang dilakukannya. Meskipun begitu, ia tidak akan kekal di neraka seperti orang-orang kafir lainnya. Stelah penyiksaan terhadap dirinya selesai, dia akan di maksudkan kedalam surga.

3.    Iman dan Kufur

  Agak pelik untuk memahami makna iman yang di berikan oleh Abu Al-Hasan Al-Asy'ari sebab, di dalam karya-karya seperti Maqalat, Al-Ibanah, dan Al-Luma, ia mendefinikan iman secara berbeda-beda. Dalam Muqallat dan Al-Ibanah di sebutkan bahwa iman adalah qawl dan amal dan dapat bertambah dan serta berkurang. Diantara defenisi iman yang diinginkan Al-Asy'ari di jelaskan oleh Asy-Syahrastani, salah seorang teolog Asya'irah. Ia menulis:

  Al-Asy'ari berkata: Iman secara esensial adalah tashdiq bin al-jananmembenarkan dengan kalbu. Sedangkan "mengatakan" (qawl) dengan lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanyalah merupakan furu cabang-cabang iman. Oleh sebab itu, siapapun yang membenarkan ke Esaan Tuhan dengan kalbunya dan membenarkan utusanya serta apa yang mereka bawadarinya, iman orang semacam itu merupakan iman yang sahih dan keimanan seorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut

  Keterangan Asy-Syahrastani diatas, di samping mengorvergansikan kedua definisi yang berbeda yang di berikan Al-asy'ari dalam maqalat, Al-Ibanah, dan Al-luma kepada satu titik pertemuan, juga menempatkan ketiga unsur iaman itu(tashdiq, qawl,amal) pada posisinya masing-masing. Jadi, bagi Al-Asy'ari dan juga Asy'ariyah, pesyaratan minimal untuk adanya iman hanyalah tasdiq, yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk syahadatain.

4.    PerbuatanTuhan

  Menurut aliran Asy-ariyah, faham kewajiban Tuhan berbuat baik manusia, sebagaimana dikatakan kaum mu'tazilah, tidak dapat di terima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlah Tuhan. Hal ini di tegaskan Al-Ghazali ketika mengatakan bahwa tuhan tidak berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia. Dengan demikian Tuhan dapat berbuat dengan sekendak hati-Nya terhadap makhluk. Sebagai mana di katakan Al-Ghazali, perbuatan bersifat tidak wajib (ja'iz) dan tidak satupun darinya yang mempunyai sifat wajib.

  Karena percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tidak berkewajiban apa-apa, aliran Asy-ariyah menerima faham pemberian beban diluar ke mampuan manusia. Al-Asy'ari sendiri, dengan tegas mengatakan alluma, bawa Tuhan dapat meletakkan yang dapat di pikul pada manusia.

  Aliran Al-asy'ariah berpendapat bahwa tuhan tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut Al-Qur'an dan Hadist. Disini timbullah persoalan bagi Asy'ariyah karena di dalam Al-Qur'an dikatakan tagas bahwa siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka. Untuk mangatasi ini, kata-kata Arab, "man alaldzina" dan sebainya yang menggambarkan arti siapa, diberi interpretasi oleh As-Asy'ari, bukan semua orang tetapi sebagian. Dengan demikian kata siapa dalam ayat "Barang siapa menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebanarnya menelan api masuk kedam perutnya "mengandung bukan seluruh, tetapi sebagian orang yang menelan harta anak yatim. Adapun yang sebagian lagi akan terlepas dari ancaman atas dasar kekuasaan dan kehendak tuhan, dengan interprestasi demikianlah.

5.    Perbuatan Manusia

  Dalam faham asy-'ari, manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Ia diibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karena itu, aliran ini lebih dekat dengan faham jabariyah dari pada dengan faham muktazilah. Untuk menjelaskan dasar pijakannya,asy'ari,pendiri aliran Asy'ariyah, memakai teori al-kasb. Teori al-kasbAsy'ari dapat dijelaskan sebagai berikut : sehingga menjadi perolehan bagi muktasib yang memperoleh kasap utuk melakukan perbuatan. Sebagai konsekuensi dari teori khab ini, manusia kehilangan keaktifan, sehingga mereka bersifat fasif dalam perbuatanya.

  Pada prinsipnya, aliran Asy-ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia di ciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mengujudkan. Allah menciptakan perbuatan manusia dan menciptakan pula pada diri manusia daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb bagi manusia.

Mengenai hakikat Al-Quran,aliran Mu'tazilah berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk sehingga tidak kekal. Mereka beragumen bahwa Al-Quran itu sendiri tersusun dari kata-kata dan kata-kata itu sendiri tersusun dari huruf-huruf.Menurut Abd.Al-Jabbar, huruf hamzah umpamanya dalam kalimat al-hamdulillah, mendahului huruf lam dan huruf lam mendahului huruf ha, Demikian pula surat dan ayat pun ada yang terdahulu dan ada yang akan datang kemudian tidaklah dapat dikatakan qadim.

6.    Kehendak mutlak tuhan dan keadilan tuhan.

  Kaum Asy'ariyah, karena percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan. Yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mata adalah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan karena kepentingan manusia atau tujuan yang lain. Mereka mengartikan keadilan dengan menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya,yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta mempergunakanya sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, keadilan tuhan mengandung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya. Tuhan dapat memberi pahala kepada hambanya atau memberi siksa dengan sekehendak hatinya,dan itu semua adalah adil bagi tuhan.

  Aliran Asy'ariyah yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kecil dan manusia tidak mempunyai kebebasan atas kehendak dan perbuatanya, mengemukakan bahwa kekuasaan dan kehendak dan perbuatannya, mengemukakan kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan haruslah berlaku semutlak-mutlaknya. Al-asy'ari sendiri Tuhan yang dapat membuat hukum serta menentukan apa yang boleh dibuat Tuhan. Malah lebih jauh di katakan oleh asy'ari, kalau emang tuhan menginginkan, ia dapat saja meletakkan beban yang tak terpikul oleh manusia.

  Karena menekankan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, aliran Asy'ariyah memberi makna keadilan Tuhan dengan pemahaman bahwa Tuhan memiliki kekuasaan mutlak terhadap makhluknya dan dapat berbuat sekehendak hatinya. Dengan demikian, ketidak-adilan di fahami dalam arti Tuhan tidak dapat berbuat sekehendaknya terhadap makhluk-Nya atau dengan kata lain di katakan tidak adil bila di pahami Tuhan tidak lagi berkuasa mutlak terhadap milik-Nya.

Manfaat Kacang Kedelai Bagi Kesehatan

Kita sering mengatakan bahwa kedelai dapat menjadi pengganti daging bagi mereka yang tergolong vegetarian. Kedelai merupakan gudang nut...